Lestarikan Budaya, Warga Muktisari Adakan Giat Tradisi Nutu Padi
Kebumen (www.wara-wirikebumen.com)-Di zaman yang serba canggih dan juga modern sekarang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat untuk membantu aktivitasnya dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Namun seiring berkembangnya teknologi nilai gotong royong dan tradisi zaman dulu banyak dilupakan oleh anak muda zaman sekarang.
Untuk melestarikan tradisi dan budaya gotong royong yang sangat kental pada zaman dulu pada teknik mengolah makanan zaman dulu warga desa muktisari melaksanakan kegiatan nutu padi.
Nutu padi itu sendiri merupakan cara yang digunakan oleh orang zaman dulu untuk mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk. Untuk proses nutu, dibutuhkan beberapa alat seperti tampah, alu dan juga lumpang.
Untuk tahap yang dilakukan yaitu menyiapkan tumpukan padi yang sudah dipanen. Kemudian potong menggunakan ani-ani atau ketam, yaitu pisau kecil yang terbuat dari kayu untuk memotong padi yang sudah masak. Setelah dipotong, padi pun dijemur dan siap dilakukan proses nutu padi untuk "menyulap" padi-padi ini menjadi beras dengan cara ditumbuk di dalam lesung.
Beda halnya dengan mesin penggiling padi yang berisik, lesung justru memiliki nilai seni saat menjalankan "tugasnya". Pasalnya, proses penumbukan padi menggunakan lesung jadi hiburan bagi masyarakat pedesaan pada masa panen. Alu dan lesung yang saling dipukulkan membentuk alunan musik yang ritmis sehingga masyarakat setempat menamainya dengan kotekan lesung.
Soal hasil, tidak perlu diragukan lagi karena padi yang ditumbuk menggunakan lesung hasilnya lebih bagus dan juga tidak mudah pecah. Kebersihan dan rasa yang lebih lezat juga menjadi alasan warga sekitar masih mempertahankan tradisi nutu padi ini.
Tradisi nutu padi menunjukkan falsafah gotong royong masyarakat Indonesia pada masa lalu. Untuk bisa menghasilkan beras yang bersih dan Juga enak, dibutuhkan kerjasama beberapa orang. Pekerjaan pun juga harus dinikmati dan bila perlu diiringi irama musik biar tambah semangat.